JuST d’STory

December 30, 2008

Selamat Tinggal 2008

Filed under: Reflexi


Malam tahun baru 2008, kuingat, aku berdiri di depan sana, berpayungan, dan menatap langit hitam yang berkilauan oleh cahaya dan rintiknya hujan yang turun malam itu. Bak seorang putri aku bermain-main di bawah hujan, dengan payung yang diputar-putar. Aku ingat apa harap yang aku ucapkan malam itu. Tapi waktu berlalu dengan cepat. Seperti menggilas habis setiap kesempatan yang tidak bisa berpacu dengannya. Hari-hari berkesan pun sempat terlewati bersamanya.

 Ulangtahunku ke duapuluh tahun ini bagaikan mendapat sebuah jawaban. Di bulan Juni, semuanya mulai berangsur-angsur berubah sampai pada puncaknya di bulan Agustus, ketika semuanya tidak bisa lagi aku pertahankan. Hancur dan larut terbawa air mata.

 Biarkan aku mengingatnya untuk yang terakhir bagaimana detik-deik terakhir pertemuanku dengannya. Yang pasti sejak aku memutuskan untuk mencoba magang, semuanya berangsur-angsur berubah, terutama sikapnya, menjadi begitu tidak bisa aku mengerti. Ntah karena apa aku tak tahu, karna cemburu kah karna smsnya tidak bisa selalu aku balas seperti dulu? Ntah mengapa aku tidak mengerti padahal setiap hari ketemu tak henti-hentinya aku jelaskan, tapi ia tidak mau mendengar sama sekali. Waktu berlalu, pembicaraan pun semakin jauh dari menyenangkan. Setiap ketemu yang ada hanya sikap yang sangat dingin, dan aku pun semakin tersiksa karenanya. Belum cukupkah selama ini aku mengalah? Belum cukupkah ia membuatku menangis? Apa salahku padanya sampai ia bersikap seperti itu? Aku telah menunggunya dengan setia. Kurang apa agi kah? Sampai ia berkali-kali menyakiti pun, aku terus mencoba bertahan, tapi mengapa ia begitu.

 Pada akhirnya aku pun menyerah pada seuatu malam. Rasanya aneh, dan tentu saja sakit. Hampir 10tahun aku menunggu, dengan 3 tahun belakangan ini yang cukup intensif, dan semuanya selesai pada suatu malam. Selesai sampai tamatlah semuanya.

 Tidak berapa lama berselang, ada yang mengisi kekosongan itu. Ini pun pilihan yang sulit karna aku tahu kami berbeda dari segala macam perbedaan, kami sungguh berbeda. Dan tidak mudah menjembatani perbedaan itu. Cobaan yang datang di awal bisa terselesaikan dengan baik. Tapi ternyata cobaan yang berat bukanlah itu. Tapi datang dalam diriku sendiri. Pada pertengahan bulan pertama aku mulai meragu, apa keputusanku benar? Apa ia pun serius? Bayang-bayang mantan dan semua yang pernah dekat pun menjadi ketakutan sendiri. Air mata demi air mata pun sempat bergulir, mati rasa pun sempat terjadi. Memasuki bulan ke dua, keadaan tidak terlalu banyak berubah seperti sebelumnya. Kadang takut untuk memulai sesuatu yang baru. Takut untuk gagal, terlebih takut untuk sakit karena penghianatan lagi. Melewati bulan kedua, kepercayaan mulai mencoba tumbuh, setidaknya untuk beberapa waktu aku merasa lebih baik. Memasuki bulan ketiga aku merasa seperti pada sebuah persimpangan, antara terus atau berhenti sekarang sebelum semuanya berjalan lebih jauh. Bayang-bayang dulu pun kadang menghantui, apakah aku salah? Apakah aku yang tidak menepati janji dengan membiarkan semuanya dulu berakhir dan memulai dengan yang baru? Cukup sulit untuk melewati perasaan itu. Tapi kuputuskan untuk terus bertahan. Bulan ketiga terlewati. Memasuki bulan ke empat, gejolak perasaan itu semakin kuat, aku pun hampir menyerah. Sampai pada satu titik, aku berpikir bahwa semua tidak bisa terus seperti ini. Seperti yang pernah aku katakana sendiri, daripada setengah-setengah mending sekalian aja. Maka dari itu, ku putuskan untuk berpikir, mau dibawa kemana hubungan ini. Kalau mau selesai, dan ternyata aku ga bisa bertahan, lebih baik selesai sekarang sebelum sama-sama sulit karna aku tahu aku ga bisa setengah-setangah. Yang dipertaruhkan terlalu banyak. Tapi kalau aku memutuskan untuk bertahan, aku harus terus, tidak boleh ada lagi keraguan dan kebimbangan lagi. Aku bimbang, jalan mana yang baik. Mungkin terdengar terlalu berlebihan, namanya juga baru pacaran. Tapi buatku, yang namanya pacaran pun atau hubungan seperti apapun, harus punya tujuan akan dibawa  ke mana. Kalau cuma sekedar main-main tanpa tujuan yang jelas, untuk apa, lebih baik jadi teman biasa saja. Have Fun. Pacaran adalah masa persiapan. -Omongan yang sok tua mungkin untuk seumuranku. Tapi buatku apapun yang aku jalani harus punya arah yang dituju mau kemana.- Dan proses pacaran adalah salah satu persiapan untuk mengolah rasa, untuk mengolah emosi, saling mengerti, menerima kekurangan dan kelebihan, baik dan buruk. Walaupun memang akhirnya bagaimana kita juga ga ada yang tahu, tapi setidaknya aku sudah mencoba untuk focus, karena kalau berjalan tapi tanpa ada tujuannya yang jelas juga untuk apa?yang aku pertaruhkan pun cukup besar jika hanya untuk sekedar bermain2,,,

 Menuju  empat bulan, adalah waktu yang sulit. Sulit untuk membuat keputusan. Tapi akhirnya dalam doa aku memutuskan untuk terus berjalan bersama dirinya. Sampai empat bulanpun terlewati sudah dalam satu tekad untuk menjalani hubungan ini lebih serius. Dalam doaku melewati 4 bulan, aku percayakan sepenuhnya pada dirinya menjadi satu-satunya juga makna perziarahanku dalam hidup, seperti katanya, satu yang dituju. Dan aku sudah memutuskan itulah dirinya. Dan lagi-lagi mengutip perkataannya, bukan melihat KARENA IA, tapi yang dilihat adalah MESKIPUN IA, tapi aku tetap bisa menerima apa adanya dirinya.

 Aku hanya bersyukur dengan hubungan yang sekarang ini sedang sama-sama sedang kita coba bangun. Menjaga setiap perasaan sayang sebaik-baiknya karena di depan sana ada satu titik yang sama-sama kita tuju dan kita coba untuk raih bersama.

 Dipenghujung tahun ini, aku menutup semua masa lalu bersama ia, apapun yang terjadi aku sudah memutuskan untuk tidak akan pernah menengok ke belakang lagi. Ia menjadi masa lalu dan selamanya hanya akan menjadi masa lalu.

 Di depan sana, aku meyakini ada hari baru, dan ada harapan baru untuk hal yang lebih baik,, dan bersama dirinya aku berjalan…

 Selamat menyambut Tahun Baru 2009

*cherish.  

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://cherish.blogsome.com/2008/12/30/selamat-tinggal-2008/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Helga Cleve